Tuesday, July 14, 2009

Mewujudkan Impian Bersama

Monday, July 13, 2009

Dua Orang Penting Laskar Pelangi


Keduanya adalah sekretaris dan bendahara Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia. Di tangan mereka, roda organisasi berputar normal. Tentu yang lain juga punya peran. Tanpa mengecilkan sumbangsih yang lain, keduanya membuat organisasi tak berjalan terseret-seret.

Menjual Laskar Pelangi


Kita akrab dengan kata membeli dan menjual. Tapi, untuk yang terakhir, setiap orang mungkin tak bisa melakukannya. Tentu, kebersamaan akan memecahkan kebuntuan ini.

Ticket is Available Here

Sunday, July 12, 2009

Menjual Laskar Pelangi

Rapat Laskar Pelangi


Hanya sebagian kecil yang bisa menafsirkan gambar ini. Yang lain hanya bisa menebak, dan bahkan seorang ahli teks pun tak mampu mengungkap.

Sebagian Tim Laskar Pelangi

Friday, July 10, 2009

Menafsirkan Gambar, Mungkinkah?

Monday, July 06, 2009

Mendekati Hari H


Mewujudkan sebuah kegiatan memerlukan kebersamaan. Rapat merupakan kegiatan yang tak dapat dielakkan. Namun, suasana pertemuan tidak harus menegangkan. Canda adalah cara paling ampuh menghilangkan ketegangan. Inilah sebagian anggota yang hadir untuk menyelesaikan tugas akhir menjelang perhelatan. Tentu, mereka adalah sebagian dari 21 orang yang tidak bisa diambil dalam satu waktu karena keterbatasan jarak ambil.

Ternyata penyebaran poster yang diagendakan untuk dilakukan malam setelah rapat dibatalkan. Poster tersebut harus distempel oleh pejabat berwenang agar tidak dicopot karena dianggap illegal. Demikian pula, penjualan tiket juga ditunda karena belum diisi nomor untuk penanda dan sekaligus memudahkan penarikan undian. Diharapkan dengan adanya doorprize, diskusi Novel Tetralogi Andrea Hirata akan memantik minat orang ramai dan mengikuti acara hingga usai. Dengan tema "Menemukan Identiti Melayu Melalui Novel Tetralogi Andrea Hirata", program ini akan menjadi salah satu pintu masuk bagi upaya memahami isu yang paling krusial dalam hubungan kemanusiaan serumpun.

Besok, kami akan membuka konter penjualan di depan perpustakaan Hamzah Sendut 1 dan sekaligus menjadikannya tempat pusat kegiatan menjelang hari pelaksanaan kegiatan. Di sini, kami bisa menjadikan pos untuk memantau pergerakan kegiatan. Lebih dari itu, tempat ini adalah sangat strategis untuk menyebarkan informasi tentang program di atas. Antusiasme teman-teman dalam mengikuti kegiatan ini sejak awal telah menumbuhkan semangat yang kadang digerus oleh banyak rintangan.

Saturday, July 04, 2009

Memburu Andrea Hirata



Poster ini lahir dari sebuah perjalanan panjang. Ia hadir untuk menyambut Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. Bukan sekedar memeras otak, tetapi juga kesabaran seluruh panitia mewujudkan mimpi ini. Malah, sentuhan akhir untuk poster ini diparipurnakan pada jam 2 pagi, setelah rapat bersama yang dihadiri 19 orang. Namun keakraban kami mampu mencairkan kejenuhan. Semua menebarkan tawa dan canda. Kehadiran Chris, mahasiswa bule, dan Ahmad Sahidah, mahasiswa Melayu, menambah greget rapat dan kemungkinan mudahnya penyebaran informasi.

Poster di atas dibuat oleh Pak Ardiansyah, yang seperti diceritakan hingga jam 2 pagi, karena poster tersebut akan digunakan sebagai latar tiket yang akan dicetak esok harinya. Tidak hanya itu, poster ini juga akan dibuat sebagai latar dari name tag, flyer, dan dekorasi. Tentu, kehadiran Gramedia untuk turut serta dalam acara ini dimungkinkan penyebaran poster lebih luas, karena toko buku yang baru buka di TESCO Seberang Prai ini mau mencetak dalam jumlah yang banyak. Sekaligus, ini penanda bahwa informasi tentang kegiatan diskusi novel akan lebih merata penyebarannya.

Perbincangan penyebaran poster tidak sesederhana kita menempel pengumuman, tetapi juga melibatkan banyak orang. Apatah lagi, ia juga berkait dengan pengelakan tumpang tindih dan upaya penempelan yang tepat sasaran. Insyaallah, Senin depan, panitia akan berkumpul lagi untuk membagi poster dan sekaligus meminta mereka menempel maklumat ini sesuai dengan kesepakatan pada rapat hari ini di Bilik Karel, Ilmu Kemanusiaan.

Pandangan Luas itu Menyenangkan


Menyesap kopi di sebuah warung adalah peristiwa biasa. Tapi kali ini, saya berada di ketinggian dan melepaskan pandangan ke segala penjuru, salah satu gambar di atas. Bukit itu dipisahkan oleh laut dan seakan menjadi penanda akhir dari jarak saya dengan dunia. Di sela itu, saya membaca koran The Sun, membual ke sana kemari, menekuri pelbagai kelebatan tingkah pengunjung. Sebagian memelototi laptop, yang lain bercengkerama. Tak hanya itu, meskipu warung kopi ini diboikot oleh sekelompok masyarakat, pegawainya ada yang mengenakan jilbab. Sebuah wajah yang sulawan.

Tapi, biarlah kesulawanan itu hadir. Pilihan kita banyak, namun kita tak bebas memilihnya karena keseharian telah ditentukan oleh iklan media. Selera dan gaya mencerminkan kehendak pabrik. Kita telah menerima jadi dan tak perlu berpikir dan hanya merayakannya hingga akhir. Semua tumpang tindih. Jika sebagian teman saya masih berteriak ancaman Barat, yang lain menganggapnya igauan di siang hari. Identitas yang diperjuangkan hanya berujung kepentingan, tidak lebih. Adalah susah menemukan ketulusan.

Sekarang, ketika refleksi ini diterakan, saya harus menjaga jarak dari objek yang disoal. Kekhawatiran yang selalu mengikuti adalah pembenaran terhadap kesenangan. Kita membungkus prilaku dan gaya dengan segudang alasan. Saya, misalnya, membenarkan duduk di warung itu dengan memasukkan beberapa cerita. Inilah helah untuk menangkis hujatan bahwa saya tidak mempraktikkan apa yang dipikirkan. Banyak omong, tapi pada masa yang sama melanggar apa yang diungkapkan.

Wednesday, July 01, 2009

Mengunjungi Pasar Malam


Foto ini diambil menjelang maghrib. Pengunjung belum berdesakan di pasar malam Sungai Dua. Seperti terlihat dalam gambar, para pedagang kecil itu menggelar lapak di badan jalan. Ada yang berjualan minuman, makanan, sayur, ikan dan banyak lagi. Saya memilih sore karena menghindari kesesakan. Mungkin agak aneh jika saya memberi judul mengunjungi Pasar Malam. Namun, begitulah adanya, meski mereka berkunjung sore hari, pasti menyebutnya pasar malam.

Saya membeli ayam, sayur kacang dan cabe, dan tak lupa pesanan ibunya Nabbiyya, jagung rebus tanpa olesan mentega, lalu pulang. Sesampai di rumah, kami pun bertukar cerita tentang harga kebutuhan yang mahal dibandingkan barang yang sama di Pasaraya Tesco. Apa benar? Ya, masak segenggam cabe dan seuntai kacang panjang RM 4? Di Tesco barang ini tidak akan semahal itu. Saya berhenti sejenak karena memang tak begitu memerhatikan perbandingan semacam ini. Bagi saya, keberpihakan pada pedagang kecil adalah wujud dari kesetiaan pada manusia, itu saja. Namun, gugatan ini tiba-tiba mengganggu, mengapa pedang kecil 'memeras' pelanggannya?

Tidak saja pasal keberpihakan, tetapi juga keharmonian. Di sana, saya bertemu dengan pedagang Melayu, India dan Tionghoa. Semua berbahasa Melayu dan kadang menjawab bahasa Inggeris jika pembelinya keluarga Arab yang belajar di Universiti Sains Malaysia. Aha, saya menemukan jawabannya, biarlah lebih mahal sedikit, tetapi di sana saya menemukan kebersamaan dan kebersahajaan. Mungkin ini juga perlu didiskusikan dengan ibunya si kecil.

Toko Buku, Warung Kopi dan Pantai


Bagaimana jika tiga hal di atas dinikmati bersama? Jelas, menyenangkan. Saya mereguknya kemarin bersama keluarga dan teman baik saya, namanya Encik Muzammil. Tentu, saya memulai dengan memesan segelas kopi dan menyesapnya perlahan. Setelah kerongkongan basah dan ngobrol ke sana kemari, saya beranjak menengok rak buku filsafat dan ilmu sosial. Sayangnya, buku keagamaan (Islam) tak begitu banyak, sehingga saya tak perlu singgah di rak bagian ini. Hanya melihat, saya kembali ke tempat duduk.

Dari ketinggian warung itu, saya menikmati pemandangan bukit Jerejak dan pantainya yang landai. Sore itu benar-benar mendatangkan riang tak alang-kepalang. Saya hanya perlu menarik napas dan menghadirkan keindahan alam yang tersaji di depan warung kopi. Oh ya, nama toko buku itu tampak jelas di belakang gambar, Borders. Di sini, pihak manejemen menyediakan ruang untuk membaca, sejumlah kursi dan meja diletakkan di tengah-tengah rak. Para pengunjung tampak khusyuk menekuri huruf. Melihat raut mereka, saya menemukan kegalauan, kesabaran dan keingintahuan. Suasana tenang, sunyi, sepi dari hiruk pikuk.

Sudah kesekian kalinya saya mampir ke toko ini dan baru sekarang mampir ke warung kopi sebelahnya. Saya tak pasti apakah ini yang terakhir sebab warung itu terlalu mahal menjual hanya untuk secangkir kopi. Mungkin, citra yang sedang diperjualbelikan di sini, sebab rasa tak jauh berbeda dengan kopi yang saya seduh di pagi hari. Atau, di sinilah, orang-orang ingin melihat dan dilihat agar diterakan sebagia bagian dari komunitas 'tertentu'.

Perjalanan ke Ipoh


Saya selalu menikmati perjalanan di tanah Semenanjung karena jalan tolnya membentang dari ujung Utara-Selatan, Timur dan Barat. Perjalanan dari Pulau Pinang ke Ipoh berjalan mulus, tak diganggu oleh macet, atau terpaksa melewati jalan bukan tol yang diganggu oleh kemacetan karena sebagian arus jalan digunakan untuk kegiatan masyarakat, seperti pasar, pesta kawinan atau peminta sumbangan masjid. Apa boleh buat, semua itu dibenarkan oleh pihak berwenang.

Hari Minggu kemarin, kami bersama Pak Cik, Mak Cik dan anak bungsunya pergi ke Perak untuk mengunjungi puteri sulungnya yang sedang mengandung. Setelah satu jam perjalanan, kami singgah ke tempat rehat yang dikelola oleh manejemen tol. Inilah kelebihan lain yang dimiliki perusahan tol di sana. Gambar di atas diletakkan di tembok warung makan yang berbunyi senyum selalu, bagian kampanye pariwisata.

Melihat gambar ini saya juga tersenyum. Hanya dengan ini, dipaksa atau tidak, tetap akan membuat keadaan menyenangkan. Ia mencairkan kebekuan dalam sebuah hubungan apa saja. Namun, saya tak perlu memaksan orang untuk melakukannya, karena sebagian memang tak suka. Namun, sepanjang pengalaman, ketika saya tersenyum, secara otomatis, orang yang bersirobok dengan keadaan seperti ini, juga turut tersenyum, selalu begitu.